Pasar Properti Makin Selektif, Pengelolaan Fasilitas Kian Menentukan Nilai Aset
Jakarta, 27 Januari 2026 – Di tengah kondisi ekonomi yang relatif stabil, sektor properti Indonesia justru bergerak lebih hati-hati. Tidak ada lonjakan agresif seperti beberapa tahun lalu. Baik investor, pemilik gedung, maupun pengelola kawasan kini lebih fokus pada satu hal: bagaimana aset yang ada tetap efisien, terawat, dan relevan dalam jangka panjang. Perubahan ini membuat facility management (FM) memainkan peran yang semakin penting. Bukan lagi sekedar urusan operasional, akan tetapi faktor penentu dalam menjaga nilai properti.
Ekonomi Stabil, Tapi Tekanan Biaya Meningkat
Meski inflasi terkendali, biaya operasional property terutama energi, pemeliharaan, dan tenaga kerja terus mengalami tekanan. Gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, hingga kawasan mixed-use dituntut untuk tetap kompetitif tanpa membebani tenant atau pengguna. Dalam situasi ini, pengelolaan fasilitas yang efisien menjadi kunci. Facility management yang terencana dapat membantu menekan biaya operasional, memperpanjang usia aset, dan menjaga kualitas layanan secara konsisten.
Data pasar menunjukkan bahwa industri facility management di Indonesia bukan lagi sektor pendukung kecil. Nilai pasar FM nasional diperkirakan mencapai USD 12,7 miliar pada 2024 dan diproyeksikan tumbuh hingga USD 22 miliar pada 2030, dengan pertumbuhan tahunan mendekati 10%. Pertumbuhan ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan pengelolaan properti yang lebih profesional dan terukur.
Pengelolaan Gedung Jadi Pertimbangan Bagi Para Investor
Saat ini, nilai properti tidak lagi hanya ditentukan oleh lokasi atau desain. Investor dan tenant semakin memperhatikan bagaimana sebuah gedung dikelola sehari-hari mulai dari pemeliharaan sistem, kebersihan, keamanan, hingga kecepatan respons terhadap masalah teknis. Gedung dengan facility management yang baik cenderung memiliki tingkat hunian yang lebih stabil dan risiko penurunan nilai aset yang lebih rendah. Sebaliknya, properti dengan pengelolaan yang lemah kerap menghadapi keluhan tenant, biaya perbaikan mendadak, hingga penurunan minat pasar.
Teknologi dan Efisiensi Operasional
Seiring meningkatnya tekanan biaya, pemanfaatan teknologi dalam facility management juga semakin relevan. Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, sebagian gedung perkantoran mulai mengadopsi sistem otomasi bangunan, termasuk pengaturan pencahayaan, HVAC, dan pemantauan konsumsi energi.
Gedung yang menerapkan sistem tersebut dilaporkan mampu menekan konsumsi energi hingga 25-40% serta mengurangi biaya perbaikan melalui pemeliharaan preventif. Efisiensi ini menjadi nilai tambah yang semakin diperhitungkan oleh pemilik aset dan investor.
Kenyamanan Pengguna Jadi Salah Satu Fokus Utama
Perubahan pola kerja dan gaya hidup membuat ekspektasi terhadap properti ikut berubah. Pengguna tidak hanya menilai tampilan fisik, tetapi juga kenyamanan sehari-hari mulai dari kualitas udara, kebersihan area publik, hingga keamanan lingkungan.
Facility management berperan langsung dalam memastikan standar tersebut terpenuhi. Dalam banyak kasus, pengalaman pengguna terhadap sebuah properti justru lebih ditentukan oleh kualitas pengelolaan fasilitas dibandingkan faktor desain semata.
Outlook: Facility Management Menjadi Diferensiasi Properti
Ke depannya, pasar properti diperkirakan akan tetap bergerak selektif. Dalam kondisi ini, properti yang mampu mempertahankan kualitas operasional dan efisiensi biaya akan memiliki daya saing yang lebih kuat. Facility management tidak lagi berada di belakang layar. Ia menjadi bagian dari strategi utama dalam menjaga nilai aset, menarik tenant, dan memastikan properti tetap relevan di tengah perubahan pasar. Temukan Solusi yang sesuai dengan kebutuhan fasilitas Anda dan konsultasikan bersama kami untuk hasil yang lebih optimal.
Artikel Lainnya
Mengapa SLA Jauh Lebih Penting dari Sekedar Dokumen